Sabtu, 25 Mei 2013

contoh RPP



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) TAUHID
RPP ini dibuat guna memenuhi tugas praktek pembelajaran mata kuliah Tauhid dan Pembelajarannya
Dosen Pengampu : Dr. Sangkot Sirait, M.Ag

LOGO UIN


Disusun Oleh  :
Fajri Rahmawati          (11410230)


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2012/2013


RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan      : MAN 1 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Mata Pelajaran            : Akidah

Pokok Pembahasan     : Iman Kepada Qadha’ dan Qadar

Kelas/ Semester           : XII/ Genap

Pertemuan Ke-            : Dua (2)

Alokasi Waktu            : 30 menit

A.    Standar Kompetensi             :
Meningkatkan Iman kepada Qadha’ dan Qadar

B.     Kompetensi Dasar                 :
Menjelaskan tanda-tanda Iman kepada Qadha’ dan Qadar

C.    Indikator                                :
1.    Menyebutkan ruang lingkup iman kepada Qadha’ dan Qadar
2.    Menganalisis paham aliran-aliran dalam ilmu kalam mengenai Qadha dan Qadar
3.    Menerapkan hikmah iman kepada Qadha dan Qadar

D.    Tujuan Pembelajaran           :
1.    Siswa mampu menyebutkan tanda-tanda iman kepada Qadha’ dan Qadar
2.    Siswa dapat menganalisis paham aliran-aliran dalam ilmu kalam mengenai Qadha dan Qadar
3.    Siswa dapat menerapkan hikmah iman kepada Qadha dan Qadar

E.     Materi Pembelajaran            :
Iman Kepada Qadha’ dan Qadar

F.     Metode Pembelajaran           :
Ceramah, diskusi kelompok, Tanya jawab

G.    Strategi Pembelajaran          :
Post test,  
H.    Prosedur Pembelajaran        :

No.
Aktivitas Pembelajaran
Waktu
Metode
1.
Pendahuluan
a.        Guru membuka pembelajaran dengan salam dan      do’a.
b.      Guru mengabsen dan menanyakan kabar pada anak didik semua.
c.       Guru memberikan apersepsi (mereview singkat materi yang sudah dibahas sebelumnya dan dihubungkan dengan materi yang akan di bahas).


5 menit

Ceramah dan tanya jawab
2.
Kegiatan Inti
a.       Guru menyampaikan materi pembelajaran tentang Iman kepada Qadha’ dan Qadar
b.      Siswa diminta untuk menanyakan materi yang belum dipahami.
c.       Siswa dibagi menjadi empat kelompok untuk mendiskusikan mengenai aliran-aliran ilmu kalam dalam menyikapi Qadha’ dan Qadar dan hikmah beriman kepada Qadha dan Qadar.
d.      Tiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya dengan perwakilan dari masing-masing kelompok.
e.       Siswa (perwakilan) diminta untuk menyimpulkan materi pembelajaran yang telah disampaikan.


20 menit

Ceramah dan tanya jawab, diskusi


3.
Penutup
a.       Guru memberikan kesimpulan dari apa yang telah disampaikan.
b.      Guru memberikan kuis pada siswa (masih dalam kelompok)
c.       Guru menutup pembelajaran dengan do’a dan salam.

5 menit
Ceramah, kuis

I.         Sumber/ Alat
a.       Sumber : Melvin L. Silberman, Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif.
    Modul Aqidah Akhlak kelas XII untuk SMA/MA yang relevan
b.      Alat
Kertas HVS, LCD, dll
J.      Penilaian
·         Kogntif
1.      Jenis         : Tes (Post- test)
2.      Bentuk     : Uraian
3.      Teknik      : Lisan
·         Afektif
1.      Jenis         : Tes
2.      Bentuk     : Tulisan
3.      Teknik      : Pemberian contoh langsung

K.    Materi
a.       Ruang lingkup iman kepada Qadha dan Qadar
Keimanan seorang mukmin kepada Qadha dan Qadar Allah hendaknya meliputi empat aspek yaitu:
1)      Ilmu (pengetahuan Allah)
Hendaklah keimanan seseorang terhadap Qadha dan Qadar Allah swt meyakini bahwa Allah mengetahui atas segala sesuatu. Dia yakin bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi dengan ilmu Nya yang azali dan abadi.
2)      Kitabah (catatan Allah)
Keimanan seseorang terhadap Qadha dan Qadar Allah SWT hendaklah meliputi keyakinan bahwa Allah telah mencatat di Lauh Mahfuz segala sesuatu yang telah terjadi sampai hari kiamat nanti.
3)      Masy’iah (kehendak Allah)
Hendaklah keimanan seseorang terhadap Qadha dan Qadar Allah meyakini bahwa Allah swt telah menghendaki segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa kehendak-Nya. Apa yang dikehendaki Allah, itulah yang terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak akan terjadi.
4)      Khalq (ciptaan Allah)
Keimanan seseorang terhadap Qadha dan Qadar Allah swt hendaklah meliputi penciptaan segala sesuatu.
b.      Hubungan antara Qadha dan Qadar
Telah kita pelajari pada pembahasan terdahulu bahwa keyakinan terhadap Qadha dan Qadar Allah menuntut adanya keyakinan keberadaan setiap makhluk berada dibawah pengetahuan, catatan, ciptaan dan kehendak Allah. Dengan kata lain, semua wujud makhluk pada dasarnya bersandar kepada izin dan kehendak Allah. Tanpa izin dan kehendak-Nya, seluruhnya tidak akan mungkin ada. Lantas bagaimana dengan manusia yang diciptakan sebagai makhluk yang memiliki kehendak bebas? Apakah seluruh perbuatan manusia juga merupakan takdir Allah tanpa ada inisiatif dari dirinya sendiri? Lantas bagaimana cara memehami keimanan Qadha dan Qadar Allah dan adanya kehendak bebbas manusia dalam menentukan jalan dan nasib hidupnya?
Para ulama ahli ilmu teologi (ilmu Kalam) pada intinya meyakini adanya kemutlakan Qadha dan Qadar Allah pada perbuatan-perbuatan manusia. Dengan kata lain, apa yang dilakukan manusia pada dasarnya juga berada dalam ketentuan dan takdir Allah swt. Hanya saja terjadi perbedaan pendapat dikalangan mereka dalam porsi adanya kehendak dan kemampuan makhluk dalam takdir maupun ketentuan Allah. Diantara mereka ada yang memeknai terlalu ekstrim dan ada juga yang bersikap moderat. Berikut ini ada beberapa kelompok yang berpendapat tentang adanya kehendak dan kemampuan makhluk dalam takdir maupun ketentuan Allah.
1)      Kelompok Khawarij
Tokohnya Ibnu Muljam, Al Barok, Umar bin Baker, Tamin bin Hamdan. Berpaham bahwa orang Islam yang berdosa besar adalah termasuk kafir dan pasti masuk neraka. Karena dosa maka tidak boleh menjadi imam/pemimpin terutama dalam shalat. Semua keputusan hukum harus diambil dari Qur’an dan orang Islam yang tidak mau mempergunakan hukum al-Qur’an termasuk juga berdosa besar, maka harus diperangi/ dibunuh.
2)      Kelompok Jabariyah
Tokohnya bernama Jaham bin Shafwan, berpaham bahwa manusia itu sama sekali tidak mempunyai kehendak/ inisiatif, kekuasaan/ kemampuan diri sendiri yang bebas untuk berbuat/ melakukan sesuatu. Semua yang dilakukan/ diperbuat oleh manusia adalah sudah merupakan jabari/ paksaan dari Qadha dan Qadar Allah. Maka menurut faham ini orang hidup tidak perlu bertanggung jawab atas segala perbuatannya, orang hidup hanya dimisalkan sebagai wayang kulit saja yang semuanya terserah pada Ki Dalang.
3)      Kelompok Qadariyah
Tokohnya Ma’abad Al Juhni, berpaham bahwa Allah setelah memberikan Qadha dan Qadar-Nya kepada manusia Allah pasif. Manusia dikaruniai akal pikiran, panca indera, akibatnya mereka beranggapan bahwa Allah hanya sebagai penonton terhadap apa yang dilakukan manusia. Baru besuk setelah manusia mati Allah akan meminta pertanggung jawaban atas segala sesuatu yang diperbuat.
4)      Ahlussunnah wal Jama’ah
Tokohnya bernama Abu Hasan Al As’ari, Abu Mansur Al Maturidi dan lain-lain, berfaham bahwa manusia itu mempunyai kebebasan berkehendak, berkemampuan dan berbuat apa saja yang ia kehendaki tetapi semuanya terbatas oleh Qadha dan Qadar Allah.
c.       Hikmah beriman kepada Qadha dan Qadar
Fungsi dan hikmah iman kepada Qadha dan Qdar sangat besar manfaatnya bagi kehidupan seseorang dan masyarakat pada umumnya, karena seseorang dapat:
1)      Berlaku adil, kasih sayang, dan tenggang rasa terhadap sesamanya, terutama pada kaum kerabat dan fakir miskin karena sadar bahwa keadaan yang demikian itu adalah Qadha dan takdir Allah, maka perlu ditolong.
2)      Dapat meningkatkan daya ikhtiar dan usahanya menuju yang lebih baik, mencari takdir yang lebih baik, sebab ia tidak mengetahui isinya takdir, yang baik haruslah dicari, jagan menunggu datangnya takdir.
3)      Dapat menolong agar orang menyadari bahwa walau bagaimanapun kemampuannya, kekuasaannya itu serba sangat terbatas oleh Qadha dan Qadar, maka bila gagal/belum tercapai iktiar atau usahanya ia bertambah sabar dan lebih mendekatkan diri kepada Allah
4)      Tidak mudah putus asa
5)      Mendorong untuk berinovasi untuk mencapai tujuannya
6)      Dapat menambah syukur kepada Allah


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar